Kebijakan Investasi Versus Kesejahteraan Rakyat di Persimpangan Jalan

Kontroversi sudah terjadi sejak awal pendirian indorayon di tanah Porsea pada tahun 1983. Seiring dengan itu pula bahwa konflik horizon antara pihak pro dan kontra, antara warga Porsea sebagai pihak-pihak yang dikorbankan terrugikan dengan pihak industri. Sejak tahun 1984 sampai saat ini tercatat ada banyak sekali konflik kasus menyangkut keberadaan indorayon. Pengaruhnya negatifnya tidak berbanding lurus dengan pengaruh positif, dimana efek negatif terlalu besar. Konflik terjadi mengejawantah dalam bentuk ancaman, penyerangan, penghancuran, intimidasi dan bahkan menyebabkan korban jiwa.

Mengapa hal ini bisa terjadi dalam waktu yang sangat lama dan seperti tak ada ujung?
Sesungguhnya, sebesar apa peranan dan ketegasan negara dalam menentukan kebijakan investasi industri, mengelola industri, dan menentukan kebijakan perlindungan bagi hak-hak rakyat?

Ataukah peraturan dan hukum yang ditetapkan seling bertentangan, tidak memiliki kepaduan, atau terlalu banyak celah-celah hukum yang bisa dimanfaatkan untuk dikelola menjadi ajang pencarian keuntungan pribadi?

Jika mencermati, merunut dan memahami semua polemik dan kontroversi menyangkut investasi dan hubungannya terhadap hak-hak orang yang terrugikan selama 25 tahun, ada dua kebijakan yang saling berhadapan, yaitu:
1. Investasi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi (yang faktanya adalah ekonomi makro)
2. Upaya peningkatan taraf hidup / kesejahteraan rakyat.
Kedua hal ini secara gamblang hampir tak bisa saling tertemukan dan keduanya juga saling mengklaim sebagai keperluan yang harus diutamakan.

Kenyataan, sejak lama sejak kekuasaan orde baru kebijakan investasi memiliki akar yang sangat mapan “bersesuka hati” bagi industri investasi dalam ruang kebijakan investasi nasional karena keberpihakan kekuasaan dan perlindungan hukum “khusus” bagi para investor. Pemerintah seperti menghamparkan karpet merah besar untuk investasi dengan mengabaikan kepentingan kesejahteraan rakyat. Tak lama sejak kondusifnya keamanan pasca orde lama, secara perlahan-lahan struktur kekuasaan memberi kebebasan arogansi bagi investor untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya di negara ini.

Dalam waktu itu pula, Indonesia menjadi sasaran investasi yang sangat potensial dan menarik bagi para investor, yang didukung oleh lemahnya sistem pengawasan dan ketetapan hukum menyangkut investasi. Sejalan dengan itu pula, kebijakan investasi telah mengesampingkan banyak sektor yang dikelola rakyat pada unit-unit yang lebih kecil, seperti pertanian, termasuk pertanian pangan.

Ekspansi industri indorayon selama puluhan tahun tidak dibarengi komitmen tinggi terhadap pentingnya transparansi proyek. Secara prosedural saja mereka sudah menyalahi ketentuan, dan juga rendahnya level komitmen untuk menjamin kelestarian lingkungan. Ada banyak kasus dan fakta menyangkut lemahnya komitmen ini. Industri pulp (dan juga rayon) merupakan unit usaha yang sangat boros akan ketersediaan lahan luas dan kayu pohon, dan juga potensial terhadap pencemaran.

Di lain pihak juga, pertimbangan kesejahteraan rakyat terpinggirkan. Rakyat berada pada posisi lemah tak berdaya untuk mempertahankan dan mengembangkan sumber-sumber hidup dan sumber-sumber produksi (pangan). Karena keberpihakan pemerintah terhadap investor dan karena lemahnya perlindungan hukum dan social kepada rakyat, dan juga karena kesulitan ekonomi maka rakyat seperti kehilangan pilihan selain mengikuti keinginan industri ini. Tanah pertanian dijual, dan bahkan ada diserobot.

Dampak lain salah kaprah kebijakan investasi ini adalah bencana. Beberapa wilayah dilanda bencana tanah longsor dan banjir (bandang), yang mana wilayah tersebut merupakan area-area eksploitasi oleh industri ini. Dan lagi yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang tidak merasakan dampak baik dari kehadiran industri ini. Secara miopis pemerintah selalu mengabaikan pertimbangan kesalahan prosedural dan strategi pengelolaan lingkungan oleh perusahaan ini. Terbukti sekali bahwa lemahnya pengawasan pemerintah terhadap investasi yang dijalankan oleh industri mengakibatkan kesengsaraan rakyat yang tidak semestinya terjadi.

Jika dilihat dari cita-cita dan visi pemerintah menyangkut investasi adalah untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, maka terbukti dan faktanya impian tersebut hanyalah isapan jempol belaka. Fakta lapangan sangat jelas menohok bahwa banyak lahan pertanian produktif yang dikelola rakyat selama puluhan tahun diambil alih oleh industri ini menjadi bagian dari eksploitasinya. Sangat ironi ketika para petani sepanjang tahun sangat menggantungkan harapan mereka dari sektor pertanian, ternyata lahannya bukan lagi milik mereka karena telah diprogramkan pemerintah sebagai hak pengelolaan perusahaan.

Hal yang sangat mengkhawatirkan dari kebijakan investasi indorayon yang salah kaprah ini adalah meluasnya dampak potensial negatife yang sewaktu-waktu dapat berakibat buruk.
Dalam konteks kesejahteraan rakyat, seharusnya sumber-sumber produktif yang dikelola rakyat tetap dilindungi pemerintah dan tidak diserahkan pada pengelolaan industri yang hanya “profit oriented”. Pembiaran pemerintah terhadap praktek-praktek alih fungsi lahan rakyat menjadi fungsi-fungsi produksi industri yang tereksploitasi adalah permasalahan yang selalu membebani rakyat. Selain itu, dampak eksploitasi indorayon ini bertautan kuat pada dampak lingkungan – pencemaran maupun penurunan kualitas tanah. Secara sosial dampaknya berpotensi pada peningkatan konflik-konflik baru menyangkut kepemilikan dan hak atas lahan rakyat.

Begitu rendah wibawa bangsa ini, secara khusus Sumatera Utara, jika berhadapan dengan industri indorayon ini. Rakyat sudah lama terkorbankan, banyak kerusakan alam dan ekosistem, dan memunculkan konflik dan potensi konflik lainnya. Jelas, ada kontradiksi besar antara investasi industri versus harmonistik ekonomi kerakyatan. Kontradiksi kebijakan investasi versus kesejahteraan rakyat.

Bukankah seharusnya kebijakan investasi dan kebijakan ekonomi dibangun secara harmoni? Jangan sampai investasi membangun disharmoni yang tak terkendali terhadap ekonomi dan kesejahteraan rakyat dengan mengesampingkan pokok-pokok kebutuhan dan masa depan rakyat.

Pada ruang penelaahan dan studi kebijakan investasi, seharusnya ekspansi indorayon dianalisis dan dinilai dari sudut keberpihakan dan untung ruginya bagi rakyat, sebab rakyat merupakan pihak sumber daya yang langsung menerima dampak kehadiran perusahaan ini. Pertimbangannya adalah setiap kebijakan investasi harus turut serta member efek positif bagi parbaikan / peningkatan ekonomi rakyat. Konsekuensinya, setiap tindakan perusahaan yang melanggar pertimbangan ini harus ditindak dan jika mungkin dipidanakan. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain kecuali tingkat urgensitas yang tinggi bagi upaya memperkuat dan meningkatkan posisi dan visi perlindungan dan peningkatan sektor-sektor produktif yang dikelola rakyat.

Kehadiran perusahaan ini sejak awal berdirinya seharusnya member kontribusi positif bagi peningkatan taraf hidup dan ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi ironisnya yang terjadi adalah upaya pembatasan dan pelemahan terhadap kebangkitan ekonomi kerakyatan dan menyebabkan kesengsaraan rakyat.
Keberpihakan penguasa terhadap industri ini terasa sangat kentara dan sudah terstruktur. Keduanya sepertinya sepakat bahwa rakyat perlu dibiarkan miskin dan dimiskinkan supaya mereka bisa tetap dieksploitir.

Oleh karena itu, harapan ke depannya adalah pentingnya pengawasan rakyat dan lembaga masyarakat secara jujur dan transparan terhadap investasi industri; supaya kasus dan konflik yang sama tidak terjadi di wilayah lain yang selalu mengorbankan rakyat.

Penulis : Jenton Irwandi Sitorus (Facebook Notes)

This entry was posted in Opini and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s