Bocah Siurar yang Gatal-gatal

Dewi Simangunsong (2,5) menggaruk ibu jari kirinya yang mungil dengan telunjuk jari kanan. Ada bintil kecil di punggung ibu jari itu. Karena garukan itu, bintil kecil tersebut pecah.

Setitik air keluar dari dalam bintil yang kemudian diusap bocah itu dengan ibu jari kanan. Ia melakukan sambil lalu selagi memerhatikan beberapa orang dewasa bercakap-cakap di satu-satunya ruang besar di rumahnya. Kebanyakan dari mereka tidak memerhatikan apa yang dilakukan Dewi.

Bintil-bintil kecil itu tidak hanya ada di ibu jari kiri Dewi, tetapi di sekujur tubuhnya, terutama di lekuk-lekuk tubuh, seperti perut dan selangkangan. ”Sudah diberi salep saat ada pemeriksaan gratis,” tutur ibu Dewi, Rasmi br Marpaung (43), Senin (8/9).

Parah

Kondisi Dewi memang terlihat yang paling parah dibandingkan dengan anggota keluarga Simangunsong yang lain. Seperti juga warga Desa Siruar, Kecamatan Parmasihan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara lainnya, keluarga Dewi terserang wabah gatal-gatal empat bulan terakhir.

Sejumlah warga mengatakan, ada sekitar 300 orang yang terkena gatal-gatal itu. Rasa gatal sangat terasa terutama di malam hari dan saat cuaca panas. Pada anak-anak laki-laki, luka-luka bahkan mengenai alat kemaluan mereka.

Desa itu terletak di belakang perusahaan pulp PT Toba Pulp Lestari (PT TPL), hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Asahan. Setiap hari warga menatap kepulan asap pembakaran PT TPL. ”Pada saat-saat tertentu tercium bau busuk,” tutur bapak Dewi, T Simangungsong (45).

Untuk memasuki desa, sebuah jembatan kayu yang bisa dilalui mobil terbentang. Namun, untuk mencapai rumah Dewi di Lumban Langsang, hanya sepeda motor yang bisa sampai. Selain itu, orang harus berjalan kaki menaiki bukit sekitar 20 menit. Orang yang bukan warga desa setempat pasti ngos-ngosan.

Rumah-rumah penduduk kebanyakan dari kayu berlantai tanah. Ternak banyak berkeliaran di halaman. Rumput liar tumbuh di halaman dengan serakan kayu dan daun kering. Bocah-bocah beringus terkena flu. Desa itu miskin dan terbelakang.

Rumah Dewi sendiri terbuat dari kayu dengan lantai tanah yang ditutup hamparan plastik putih. Tak ada perabot mewah di situ. Ruangan berisi dipan kayu reyot. Keluarga itu hidup dari bertanam kopi yang saat ini bijinya laku Rp 12.000 per kilogram.

Abang Dewi, Raymond Simangunsong (9), yang saat ditemui tengah berjalan pulang dari sekolah, juga menunjukkan bintil-bintil di tubuhnya. Garis-garis putih terlihat di punggung tangan bekas digaruk. Baju seragam merah-putih terlihat lusuh dan banyak yang robek pada jahitannya.

Agak jauh dari rumah Dewi, ada keluarga Simangunsong yang lain. Bocah-bocah balita di keluarga itu mengalami hal yang sama. Tubuhnya penuh bintil kecil. Bekas luka dan luka yang belum sembuh terlihat di perut, punggung, dan seputar selangkangan. Saat ditemui, bocah-bocah itu tiduran di lantai menatap televisi—satu-satunya barang mewah di rumah itu—sambil tangan mereka terus menggaruk tubuh.

Seluruh warga

Sejumlah warga menyatakan gatal-gatal menyerang seluruh warga desa, baik anak-anak, gadis, bapak, maupun ibu, karena terkena debu pembakaran batu bara PT TPL. Berkali-kali warga mengadakan unjuk rasa karena kasus ini. Dua kali pengobatan sudah dilakukan oleh PT TPL. Ada warga yang datang, ada yang enggan kembali karena merasa pengobatan pertama tidak manjur.

Dalam pertemuan terakhir warga dengan perusahaan, Senin lalu, PT TPL justru menjanjikan akan memberikan pupuk sebanyak satu karung untuk setiap kepala keluarga.

Humas PT TPL Chairuddin Pasaribu mengakui, memang belum ada penelitian mendalam soal kasus ini. Namun, berdasarkan keterangan dokter yang memeriksa warga, kata Chairuddin, kebanyakan warga terkena scabies, penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu karena perilaku hidup mereka yang tidak bersih. Menurut Chairuddin, jika tidak ada perubahan perilaku, gatal-gatal sulit sembuh.

Salah satu direktur PT TPL, Mulia Nauli, menambahkan, sejak beroperasi tahun 2003, perusahaan sudah menggunakan batu bara. Selama itu tidak ada keluhan dari warga.

Mulia mengatakan, perusahaan mulai berbenah setelah kasus penutupan Indorayon tahun 1999 dan mulai beroperasi lagi tahun 2003 menjadi PT TPL. Salah satunya dengan memberikan dana community development (CD) kepada warga sebesar 1 persen dari net sales.

Dana mengucur

Sejak 2003 hingga 2006, dana CD yang mengucur sebesar Rp 26 miliar, yang dikelola Yayasan Toba Mas yang beranggotakan tokoh masyarakat setempat dan dua pegawai PT TPL. Sementara itu, dana CD tahun 2007 sebanyak Rp 12 miliar hingga hari ini belum dikucurkan. Dana diperuntukkan bagi delapan kabupaten yang menjadi daerah kerja PT TPL dengan proporsi terbesar di Kabupaten Toba Samosir.

Namun, dana yang sedemikian besar itu sama sekali tak terlihat pada pembangunan kampung yang terletak persis di belakang perusahaan. Bocah-bocah berpakaian lusuh dan kotor. Anak-anak muda merantau ke luar daerah mencari kerja. Sejumlah gadis putus sekolah.

Dimpos Manalu, staf Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat Sumatera Utara, mengatakan, perubahan yang terjadi di tubuh PT TPL masih berada di tingkat pemegang kebijakan, belum sampai pada aplikasi di tingkat masyarakat kebanyakan. ”Mereka memang lebih terbuka pada media, namun tanggung jawab pada warga sekitar tidak terlihat secara kasatmata,” tutur Dimpos.

Sempat tersiar kabar bahwa yayasan pemegang dana CD terindikasi korupsi.

Masyarakat pun hingga kini masih terbelah dalam dua pendapat. Mereka yang mendukung PT TPL karena keberadaannya secara pribadi menguntungkan dan mereka yang menolak karena perusahaan tidak memberikan keuntungan.

Dewi, bocah 2,5 tahun itu, dan anak-anak di Siurar saat konflik Indorayon yang kini berubah jadi PT TPL banyak yang belum lahir. Dewi bahkan mungkin belum tahu bahwa di dekat rumahnya, tak lebih dari satu kilometer, ada perusahaan pulp besar.

Ia juga tidak tahu mengapa gatal-gatal menyerang. Namun, ia terus menggaruk badan dengan tatapan mata kosong dan berkaca-kaca seolah-olah ia hendak berkata, ”Kami, anak-anak Siurar, berhak tumbuh sehat dan gembira.” Bukan garuk-garuk badan saja kerjanya. (WSI)

Sumber : Harian Kompas

This entry was posted in Media Clipping, Siruar - Porsea and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s